Lagi, Kecurangan dalam UNAS
Ini adalah fenomena yang selalu berulang setiap tahunnya. Nggak perlu kaget, karena memang tidak ada yang perlu dikagetkan. Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan yang kemarin, banyak kecurangan yang biasanya dilakukan, yakni oleh orang tua maupun oleh guru dan sekolah penyelenggara UNAS. Kecurangan-kecurangan itu sudah banyak yang tercium dan dipublikasikan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Para pelaku juga sudah dijatuhi hukuman atas perbuatannya.
Beberapa kecurangan yang pernah terjadi antara lain sebagai berikut :
- Orang tua membeli kunci jawaban UNAS dari pihak tertentu, yang kebenarannya belum jelas. Padahal, sudah ada beberapa kasus yang membuktikan bahwa tidak semua kunci jawaban yang dijual itu asli. Dampaknya, pembeli kunci jawaban palsu tersebut nilainya akan jeblok. Lebih parahnya bisa nggak lulus.
- Guru memberikan jawaban UNAS lewat berbagai macam cara, seperti lewat SMS (pesan singkat via ponsel), potongan kertas kecil, dan ada juga yang membetulkan jawaban yang salah ketika lembar jawaban siswanya akan dikembalikan ke dinas. Jika ada yang dianggap punya nilai sempurna, maka akan “dipermak” semaksimal mungkin sehingga hasilnya tidak 100% benar, tentunya untuk menghilangkan kecurigaan pihak-pihak yang berwajib.
Sebenarnya kita sulit menentukan apakah perbuatan kecurangan-kecurangan itu merupakan perbuatan baik atau malah sebaliknya. Penjual kunci jawaban, bermaksud untuk “membantu” para siswa menghadapi kesulitan, dan tentunya memanfaatkan keadaan untuk mencari keuntungan materi. Orang tua, tentunya tak ingin menanggung malu kalau anaknya tak bisa lulus UNAS. Pihak sekolah dan guru juga tak kalah, mereka tak ingin gengsi mereka menjadi turun, dengan adanya siswa mereka yang tak lulus atau ada yang memiliki nilai rendah.
Jika boleh dibilang, mereka hanya pelaku sekaligus korban dari sistem pendidikan yang dengan “kejamnya” menjadikan UNAS sebagai penentu kelulusan. Kenapa korban? Kalau sistem UNAS tidak seperti itu, pasti kejadiannya akan berbeda.
Ada yang nggak setuju?
Print This Post

ya, salah satu kelebihan qt slalu ska mendramatisir, akrx ketakutan sendiri kn?
yaaah…kayaknya hal itu udah jadi tradisi di Indonesia. Jadi sulit bgt buat menghilangkannya…ck..ck..ck
posting terbaru dari cinderella ilang sepatunya’s adalah.. Siapakah pasangan SBY nantinya???
bisa dibilang begitu juga sih. emang phobianya terlalu tinggi
Wah…amburadul kalau seandainya Orang tua membeli kunci jawaban, mau jadi apa anaknya nanti ? koruptor kali hihik.
posting terbaru dari balisugar’s adalah.. Online Shopping
itu sudah tradisi siswa,,,,jadi susah di rubah,,,aku aja kaget waktu tau temenku yang ku segani karena dy rajin n pinter ternyata bawa hape ke ruang ujian,,,aku udah g berani mau kayak gitu,,belum2 ku dah di omeli ma orang2 tua,,,,
mungkin mereka g mau kalo aku berbuat curang juga kali yach?!
kalo menurutku c,mending g usah ada UNAS dech,,,kan yang lebih tau kemampuan siswa itu gurunya,,bukan mentri pendidikannya,,,rasanya sekolah 3 tahun g da artinya kalo cuma di tentukan ma 5 hari,,,,,
iya kan?
#lily : ya memang sharusnya diingatkan biar mereka g salah jalan.
ada tidaknya unas kan msh dlm perdebatan. liat aja nanti