Dia yang sudah Tiada
Bagaimana kalau dalam kehidupan kita ada sesuatu yang dulunya melekat banget dengan kehidupan kita namun kemudian tiba-tiba tiada, menghilang tanpa jejak? Merasa kehilangan kan? Seperti itulah yang aku rasakan saat menyadari kalau aku dan mungkin banyak orang lain merasa kehilangan hal ini, tanpa menyadari kalau merasa kehilangan, karena seakan-akan hal ini udah nggak penting lagi sekarang.
Wartel, masih ingatkah kamu dengan kata itu? Wartel yang kepanjangannya adalah warung telekomunikasi -seperti yang kita tahu- merupakan tempat / layanan publik yang diperuntukkan untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Umumnya mereka menyediakan perangkat komunikasi berupa telepon rumah (PSTN), walaupun beberapa diantaranya yang udah maju memiliki tambahan fasilitas faximile di wartelnya.
Dulu, wartel merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi untuk berkomunikasi dengan sanak saudara, kerabat, teman, pasangan, atau orang lain yang sekiranya terpisah jarak yang lumayan jauh dan akan lebih hemat jika berbicara langsung ketimbang ketemu langsung dengan orangnya. Kemudahan penggunaan dan murahnya biaya yang harus dibayar merupakan alasan utama untuk menggunakan jasa wartel ini.
Namun sekarang semuanya udah berubah. Wartel yang dulunya merupakan bisnis yang menjamur di kalangan masyarakat karena antusiasme yang besar, kini udah menjadi sesuatu yang usang. Itu karena semakin majunya teknologi telepon tanpa kabel, yang selain sudah semakin murah, juga sudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari orang kaya yang punya harta melimpah, bahkan hingga tukang becak yang sehari-harinya mengayuh becak untuk mengais rejeki.
Karenanya, sekarang sudah banyak wartel yang tutup, kalau nggak mau disebut habis sama sekali. Ada yang cuma ditutup nggak diapa-apain lagi, tapi ada juga yang berubah fungsi. Entah jadi warnet (warung internet), konter seluler, atau malah ada yang berubah fungsi menjadi kantor cabang sebuah partai politik. Waduh-waduh..
Pernah aku sedang mencari wartel untuk menelepon seorang rekan yang pakai CDMA, setelah muter-muter ternyata nggak nemu. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah wartel yang masih ada tulisan di depannya. Pas masuk ke dalam, ternyata, nggak ada satu pesawat teleponpun. Yang ada, hanya seorang ibu yang sedang asyik menjahit dengan mesin jahitnya.
Pas aku tanya kenapa wartelnya tutup, ternyata jawabannya bisa dibilang masuk akal.
“Sekarang wartel sepi mas, belum pengeluaran untuk bagi hasil dengan telkom, belum lagi kalau pesawat teleponnya rusak dan harus diperbaiki. Kan tekor jadinya”.
Oh, ternyata itu ya alasannya. Walaupun jujur, masih ada beberapa orang yang butuh wartel (termasuk aku), namun kalau pemilik wartel aja bilang gitu, mau gimana lagi?
Â
Print This Post

sedih pastix tpi tu lha yg namax hdup, da yg dtg da yg pergi, hlg wartel dtnglah Hp pasti ntar Hp gt juga.
#saras : terus hp dganti ma apa nanti ya?
Wartel skrng sudah tersishkan oleh tehnologi yg smakin canggih.
Dulu wartel sangat ramai di kunjungi pada hari minggu karna katanya lbh murah di bnding hari biasanya.
#Mr. o2n : iya ta? aku juga dulunya pengguna wartel. tapi koq ndak tahu kalo hari minggu lebih murah y?
Itulah kemajuan teknologi, wartel tergusur oleh menjamurnya handphone
Ntar gantinya hp paling balik lagi ke masa lampau yaitu telepati
#baezur : telepati? aduh, mana bisa aku
ya mau bilang apa lagi bila tekno semakin maju kan harus ada yang di korbankan salah satu ya wartel itu.
#yuwaku : tapi kasihan ya para pengusaha wartel yang jadi kehilangan lahan pendapatannya
Bahkan sekarang utk ketemu sama yg namanya wartel..susahnya minta ampun. Yg banyak sekarang adalah warnet, itu pun juga agak jarang… Hampir semua pada pake ponsel, bisa telpon plus ngenet…
#hary4n4 : kalo warnet c, skrg msh sdang menjamur. msh blm terlalu kalah ma ponsel