Dia yang sudah Tiada

January 25th, 2010 | Categories: Opini | Tags: ,

Bagaimana kalau dalam kehidupan kita ada sesuatu yang dulunya melekat banget dengan kehidupan kita namun kemudian tiba-tiba tiada, menghilang tanpa jejak? Merasa kehilangan kan? Seperti itulah yang aku rasakan saat menyadari kalau aku dan mungkin banyak orang lain merasa kehilangan hal ini, tanpa menyadari kalau merasa kehilangan, karena seakan-akan hal ini udah nggak penting lagi sekarang.

Wartel, masih ingatkah kamu dengan kata itu? Wartel yang kepanjangannya adalah warung telekomunikasi -seperti yang kita tahu- merupakan tempat / layanan publik yang diperuntukkan untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Umumnya mereka menyediakan perangkat komunikasi berupa telepon rumah (PSTN), walaupun beberapa diantaranya yang udah maju memiliki tambahan fasilitas faximile di wartelnya.

Dulu, wartel merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi untuk berkomunikasi dengan sanak saudara, kerabat, teman, pasangan, atau orang lain yang sekiranya terpisah jarak yang lumayan jauh dan akan lebih hemat jika berbicara langsung ketimbang ketemu langsung dengan orangnya. Kemudahan penggunaan dan murahnya biaya yang harus dibayar merupakan alasan utama untuk menggunakan jasa wartel ini.

Namun sekarang semuanya udah berubah. Wartel yang dulunya merupakan bisnis yang menjamur di kalangan masyarakat karena antusiasme yang besar, kini udah menjadi sesuatu yang usang. Itu karena semakin majunya teknologi telepon tanpa kabel, yang selain sudah semakin murah, juga sudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari orang kaya yang punya harta melimpah, bahkan hingga tukang becak yang sehari-harinya mengayuh becak untuk mengais rejeki.

Karenanya, sekarang sudah banyak wartel yang tutup, kalau nggak mau disebut habis sama sekali. Ada yang cuma ditutup nggak diapa-apain lagi, tapi ada juga yang berubah fungsi. Entah jadi warnet (warung internet), konter seluler, atau malah ada yang berubah fungsi menjadi kantor cabang sebuah partai politik. Waduh-waduh..

Pernah aku sedang mencari wartel untuk menelepon seorang rekan yang pakai CDMA, setelah muter-muter ternyata nggak nemu. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah wartel yang masih ada tulisan di depannya. Pas masuk ke dalam, ternyata, nggak ada satu pesawat teleponpun. Yang ada, hanya seorang ibu yang sedang asyik menjahit dengan mesin jahitnya.

Pas aku tanya kenapa wartelnya tutup, ternyata jawabannya bisa dibilang masuk akal.

“Sekarang wartel sepi mas, belum pengeluaran untuk bagi hasil dengan telkom, belum lagi kalau pesawat teleponnya rusak dan harus diperbaiki. Kan tekor jadinya”.

Oh, ternyata itu ya alasannya. Walaupun jujur, masih ada beberapa orang yang butuh wartel (termasuk aku), namun kalau pemilik wartel aja bilang gitu, mau gimana lagi?
 
 



Print This Post Print This Post
  1. saras
    January 26th, 2010 at 13:26
    Reply | Quote | #1

    sedih pastix tpi tu lha yg namax hdup, da yg dtg da yg pergi, hlg wartel dtnglah Hp pasti ntar Hp gt juga.

    • a-rief
      January 26th, 2010 at 20:17
      Quote | #2

      #saras : terus hp dganti ma apa nanti ya?

  2. January 28th, 2010 at 12:10
    Reply | Quote | #3

    Wartel skrng sudah tersishkan oleh tehnologi yg smakin canggih.
    Dulu wartel sangat ramai di kunjungi pada hari minggu karna katanya lbh murah di bnding hari biasanya.

    • a-rief
      January 28th, 2010 at 12:40
      Quote | #4

      #Mr. o2n : iya ta? aku juga dulunya pengguna wartel. tapi koq ndak tahu kalo hari minggu lebih murah y?

  3. January 29th, 2010 at 14:37
    Reply | Quote | #5

    Itulah kemajuan teknologi, wartel tergusur oleh menjamurnya handphone

  4. January 29th, 2010 at 14:43
    Reply | Quote | #6

    Ntar gantinya hp paling balik lagi ke masa lampau yaitu telepati

    • a-rief
      January 30th, 2010 at 07:20
      Quote | #7

      #baezur : telepati? aduh, mana bisa aku :-D

  5. January 29th, 2010 at 16:48
    Reply | Quote | #8

    ya mau bilang apa lagi bila tekno semakin maju kan harus ada yang di korbankan salah satu ya wartel itu.

    • a-rief
      January 30th, 2010 at 07:21
      Quote | #9

      #yuwaku : tapi kasihan ya para pengusaha wartel yang jadi kehilangan lahan pendapatannya

  6. January 31st, 2010 at 19:41

    Bahkan sekarang utk ketemu sama yg namanya wartel..susahnya minta ampun. Yg banyak sekarang adalah warnet, itu pun juga agak jarang… Hampir semua pada pake ponsel, bisa telpon plus ngenet…

    • a-rief
      February 1st, 2010 at 05:05

      #hary4n4 : kalo warnet c, skrg msh sdang menjamur. msh blm terlalu kalah ma ponsel